Menjadi Perempuan Berilmu: Bukan Hanya Pintar, Tapi Menumbuhkan Kehidupan

Kemarin baru saja saya mendengarkan sebuah video motivasi dari Ning Khilma Anis beliau adalah penulis novel Hati Suhita yang juga di filmkan. Beliau menjelaskan tentang peran perempuan dalam kehidupan “Mereka perannya seperti sutradara, walaupun dibelakang layar tapi sangatlah dibutuhkan, perempuan sebagai tiang utama kehidupan. Sehingga mereka harus mandiri dan harus cerdas”.

Ujiannya perempuan bukan main yaitu perasaannya sendiri, yang mudah baperlah, mudah tersinggung, mudah emosional lalu akibatnya? disekitarnya menjadi tidak tenang dan nyaman berada didekat mereka. Kalau semua yang ada di kepalanya dilepaskan, kesan egois dan jahat itu akan menjadi label dirinya. Kalau mudah nurut dengan perasaannya jadi mudah larutlah, pekerjaan yang harusnya selesai, jadi terlambat selesainya. 

Adakah dari kamu yang merasakan ini? atau pernah melihat perempuan yang seperti ini? Saya sangat merasakan ini dulu, entah berapa banyak waktu luang yang saya korbankan untuk perasaan ini, tidak sadar energi habis begitu saja. Hingga sekarang saya belajar untuk memahami dan mengenali mana kendali saya, dan mana yang tidak kendali saya.  Mana yang harus difokuskan dan mana yang harus diabaikan.

Setelah menikah saya sangat menyadari bahwa sikap ini tidak boleh saya rawat terus menerus. Sehingga pentingnya perempuan untuk terus belajar, menyibukkan diri dengan ilmu dan karya karena hal ini. Tidak ada yang salah dengan perasaan, karena menjadi anugerah untuk perempuan itu juga. Namun ketika perasaan bisa di didik dengan ilmu serta adab maka ia akan menjadi sumber ketenangan, nasihat serta kalimat yang keluar dari lisan tumbuh menjadi penyemangat dan aliran kasih sayang dari hatinya yang peka dan lembut dapat dirasakan sehingga orang yang didekatnya menjadi nyaman. 

        ||Baca Juga: Sering Lelah Padahal Tidak Sibuk

Mengapa Perempuan Disebut Guru Kehidupan?

Perempuan sebagai madrasah utama untuk anak-anaknya, untuk mengharapkan anak yang baik maka orangtuanya dulu yang harus baik. Begitu juga kata Ning Khilma “Ketika perempuan itu mandiri dan terus belajar maka akan lahir generasi generasi yang unggul dari rahim mereka bagaimanapun kasta lelaki yang menikah dengannya”. Karena mencontohkan dan memberi teladan adalah ikhtiar yang paling baik dalam mendidik. 

Ada empat filosofi hidup Ki Hajar Dewantara yang dipaparkan oleh Ning Khilma, yaitu diantaranya

        1. Ngandel ialah percaya diri dan beriman kepada Allah

        2. Kendel ialah berani berjuang, berani ambil resiko, dan berani menegakkan kebenaran

        3. Bandel ialah tidak mudah menyerah, tidak mudah tersinggung, tidak oversharing dan tidak                     mudah baper sehingga dia menjadi tahan ujian

         4. Kandel ialah teguh pendirian, dengan iman dan ilmunya dia kebal terhadap kritik atau pengaruh             buruk

Sehingga perempuan menjadi peta awal yang dapat memberi bekal kehidupan bagi generasi penerusnya.

Perempuan yang tidak mengenal dirinya sering kehilangan arah saat hidup menuntut terlalu banyak darinya. Sehingga penting untuk diri ini bisa belajar mengenal emosi, lalu meregulasinya, berdamai dengan luka dan mengenal nilai diri terlebih dahulu. Selesai dengan diri sendiri menjadi langkah awal yang penting sebelum bisa punya hubungan yang sehat dengan orang lain.

Perempuan yang terus belajar mengenal dirinya, lalu mengevaluasi maka ia akan terus bertumbuh dan Allah menyukai mereka yang suka mengevaluasi diri. Allah memberi kemenangan, kesuksesan kepada yang suka mengevaluasi dirinya seperti ayat Allah dalam surat Asy Syams ayat 9, “Sesungguhnya beruntung orang yang mensucikan jiwa itu”.

Setelah kita mampu memahami diri sendiri, setelahnya dievaluasi maka ia akan mampu untuk memahami orang lain. Tapi mereka juga punya batas, tetap berbuat baik tanpa mengorbankan diri terus menerus.

Perempuan Berilmu Sangat Dimuliakan Dalam Islam

Islam tidak pernah menempatkan manusia “hanya” sebagai pelengkap kehidupan. Seperti kalimat yang sering kita dengar di masyarakat “Untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi jika berujung pada dapur, sumur dan kasur”. Kita tidak boleh larut dalam pemaknaan ini sebab kita dapat mengambil sudut pandang yang lain yaitu dari dapur, perempuan sebagai ruh dari rumah tersebut. Dari sumur, menjadi tempat bertanya bagi keluarganya. dan dari kasur, menjadi sumber tenang bagi pasangan dan anaknya. Untuk semua hal ini, butuh ilmu bukan?

Bagaimana  di zaman Rasulullah, perempuan yang berilmu itu sangat dimuliakan sehingga menjadi madrasah bagi peradaban. Contoh saja Sayyidah Khadijah istri Rasulullah, beliau pebisnis, cerdas, dermawan dan penopang dakwahnya Rasulullah. Beliau kuat dan matang secara emosional, sehingga saat Rasulullah kembali dari perangnya, Ibunda Khadijah tidak memaksa Rasulullah untuk segera bercerita tetapi mengambilkan minum dan membiarkan Rasulullah beristirahat. Rasulullah begitu mendapatkan dukungan dari istrinya dalam menyebarkan dakwah islam.

Sehingga ilmu bagi perempuan bukan untuk membuat mereka terlihat pintar atau hebat tetapi ilmu membuat mereka menjadi pribadi yang kuat, tenang dan terus bertumbuh. Dari contoh ini dapat kita pelajari bahwa islam mendorong perempuan untuk aktif belajar dan berperan positif dalam masyarakat.

Ada pribahasa baik yang diucapkan oleh Ning Khlima Anis untuk para perempuan 

    ||“Kamu tidak perlu minta izin untuk terbang sebab itu adalah sayapmu dan langit             bukan punya siapa siapa. maka terbanglah tinggi.” 

Di telapak tangan wanitalah esensi surga dan dunia itu berada. Jelas Ning Khilma lagi. 

Semoga semakin banyak perempuan yang sadar kebutuhan ilmu di dalam hidup juga peran yang akan dijalankan nantinya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mengenal Dirinya "Lagi"

Kunci Kecukupan

Kenapa Tubuh Kita Sering Kelelahan Padahal Tidak Sibuk? Berikut Penjelasannya